
Porong sidoarjo. Sore itu perlahan- lahan matahari mulai tenggelam nampak indah berwarna kekuning- kemerah-merahan, warga muslim korban lapindo duduk- duduk di pelataran tanggul lapindo. Berhayal, berharap rumah tinggalnya yang dulu bisa ditempati kembali, bercanda di halaman rumah bersama anak- anak tercintanya, bercengkrama bersama tetangga dekat, memberi makan ternak di pelatar samping rumah, sirene kereta di sore hari yang di sambut teriakan anak-anak sambil melompat, betapa indahnya..... Adzan magrib membangunkan lamunan bapak dua anak yang kini masih mengungsi di penampungan korban lapindo.
Kapan bencana ini akan berakhir? kapan giliran geluarga saya mendapat ganti rugi dari Lapindo brantas/Pemerintah?
Hinggal detik ini, Semburan lumpur lapindo terus-menerus mengeluarkan lumpur lembut. Anehnya, Negara berkembang seperti Indonesia tak satupun intansi pemerintah, suasta yang sanggup menyumbatnya/menghentikannnya.
pemeritahan daerah sekarang ini, sepertinya enggan membicarakan kasus lapindo lagi.
Saya merasakan penderitaannya, saya merasakan betapa sedihnya kehilangan tempat tinggal yang selama ini bagian dari sejarah keluarga.Tulisan ini bagian dari kritikan membangun, dimana pemerintah terkait seyogjanya segera merampungkan bencana ini.
No comments:
Post a Comment